Nama :
Diah Kamalia Hanastuti
Kelas :
2PA06
NPM :
12514954
Kepribadian Sehat Humanistik
Istilah Psikologi Humanistik
(Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada
awal tahun 1960-an dan bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam
mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual
dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan
behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai kekuatan ketiga atau
the third force, karena humanistik muncul sebagai kritik terhadap pandangan
tentang manusia yang mekanistik behaviorisme dan pesimistik psikoanalisa.
Menurut aliran
humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan
potensi yang terdapat di dalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalkan
pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar
mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon
individu yang bersifat pasif.
Ciri dari kepribadian
sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu
yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri
adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena
setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala
sesuatu yang menjadi kebutuhannya.
Kepribadian yang sehat menurut humanistik, perilaku yang mengarah pada
aktualisasi diri
a.
Menjalani hidup seperti seorang anak,
dengan penyerapan dan konsentrasi sepenuhnya.
b.
Mencoba hal-hal baru ketimbang bertahan
pada cara-cara yang aman dan tidak berbahaya.
c.
Lebih memperhatikan perasaan diri dalam
mengevaluasi pengalaman ketimbang suara tradisi, otoritas, atau mayoritas.
d.
Jujur, menghindari kepura-puraan dalam bersandiwara.
e.
Siap menjadi orang yang tidak popular
bila mempunyai pandangan sebagian besar orang.
f.
Tanggung jawab.
g.
Bekerja keras
Pendapat Allport
Dalam
musim panas tahun 1920, Gordon Allport (1897-1967) menemui Sigmund Freud.
Pertemuan itu ternyata menjadi suatu peristiwa yang memalukan tapi penting bagi
Allport yang berusia 23 tahun saat itu, karena pertemuan itu akhirnya
menyebabkan Allport menolak psikoanalisis Freud untuk kepentingan suatu
pendekatan yang sangat berbeda terhadap kepribadian.
Allport
menadapat gelah Ph.D. nya dari Harvard pada tahun 1922 dan meneruskan kariernya
yang terkenal sebagai pakar dari studi kepribadian di Amerika. Karyanya menyebabkan
studi kepribadian secara akademis dihargai di Amerika Serikat. Ia mempunyai
banyak pegikut ahli psikologi dan menerima banyak tanda jasa. Ia juga merupakan
salah seorang dari ahli-ahli psikologi yang pertama di Amerika yang memeusatkan
perhatian pada kepribadian yang sehat daripada kepribadian yang neurotis.
Allport
tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai
oleh keuatan-kekuatan tidak sadar atau kekuatan yang tidak dapat dilihat dan
dipengaruhi. Orang-orang yang sehat tidak didorong oleh konflik-konflik tak sadar.
Allport percaya bahwa kekuatan tak sadar itu merupakan pengaruh yang penting
pada tingkah laku orang-orang dewasa yang neurotis. Akan tetapi
individu-individu yang sehat yang berfungsi pada tingkat rasional dan sadar,
menyadari sepenuhnya kekuatan yang membimbing mereka dan dapat mengontrol kekuatan
itu juga.
Kepribadian
yang matang tidak dikontrol oleh trauma dan konflik masa kanan-kanak. Orang yang
neurotis, terikat atau terjalin erat pada pengalaman-pengalaman masa
kanak-kanak, tetapi orang yang sehat bebas dari paksaan-paksaan masa lampau.
Orang-orang yang sehat dibimbing dan diarahkan oleh masa sekarang dan oleh
intensi kearah masa depan dan antisipasi masa depan. Pandangan orang yang sehat
adalah ke depan, kepada peristiwa-peristiwa kontemporer dan peristiwa yang akan
datang serta tidak mundur kembali kepada peristiwa masa kanak-kanak. Segi
pandangan yag sehat ini memberi jauh lebih banyak kebebasan dalam memilih dan
bertindak.
7 Kriteria Kematangan
Tujuh kriteria kematangan ini merupakan pandangan
Allport tentang sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat.
1.
Perluasan Perasaan Diri
Ketika diri berkembang, maka diri itu meluas menjangkau banyak orang dan
benda. Awalnya diri berpusat hanya pada individu kemudian bertambah luas
meliputi nilai-nilai dan cita-cita yang abstrak. Orang harus menjadi partisipan
yang langsung dan penuh. Allport menamakan hal ini pertisipasi otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana
yang penting dari usaha manusia. Orang harus meluaskan diri ke dalam aktivitas.
Menurut Allport, suatu aktivitas harus relevan dan penting bagi diri serta harus
berarti sesuatu bagi orang itu. Apabila anda mengerjakan suatu pekerjaan karena
anda percaya bahwa pekerjaan itu penting, menantang kemampuan, membuat anda
merasa enak, maka anda merupakan seorang partisipan otentik dalam pekerjaan
itu. Aktivitas itu lebih berarti daripada pendapatan yang diperoleh dan
memuaskan kebutuhan-kebuthan lain juga.
Semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas atau orang
atau ide, maka ia semakin sehat secara psikologis. Diri menjadi tertanam dalam
aktivitas-aktivitas yang penuh arti dan menjadi perluasan perasaan diri.
2.
Hubungan Diri yang Hangat dengan
Orang-orang Lain
Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang-orang
lain: kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu.
Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap
orangtua, anak, pasangan, teman akrab. Apa yang dihasilkan oleh kapasitas untuk
keintiman ini adalah suatu perasaan perluasan diri yang berkembang baik, syarat
lain bagi kapasitas keintiman adalah suatu perasaan identitas diri yang
berkembang dengan baik.
Ada perbedaan antara hubungan cinta dari orang yang neurotis dengan
hubungan cinta dari kepribadian-kepribadian yang sehat. Orang-orang yang
neurotis harus menerima cinta jauh lebih banyak daripada kemampuan mereka untuk
memberinya. Apabila mereka membari cinta, maka cinta itu diberikan dengan
syarat-syarat dan kewajiban-kewajiban yang bersifat timbal balik. Cinta dari
orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan, atau mengikat.
Perasaan terharu, tipe kehangatan yang kedua adalah suatu pemahaman tentang
kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang yang
sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan, penderitaan, ketakutan, dan
kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia. Empati ini timbul melalui
perluasan imajinatif dan perasaan orang sendiri terhadap kemanusiaan pada
umumnya.
Sebagai hasil dari kapasitas perasaan terharu, kepribadian yang matang sabar
terhadap tingkah laku orang-orang lain dan tidak mengadili atau menghukumnya.
Orang yang sehat menerima kelemahan-kelemahan manusia, dan mengetahui bahwa dia
memiliki kelemahan-kelemahan yang sama. Akan tetapi, orang yang neurotis tidak
sabar dan tidak mampu memahami sifat universal dari pengalaman-pengalaman dasar
manusia.
3.
Keamanan Emosional
Kepribadian yang sehat juga mampu menerima emosi-emosi manusia. Kepribadian
yang sehat mengontrol emosi-emosi mereka, sehingga emosi-emosi ini tidak
mengganggu aktivitas antarpribadi, emosi-emosi diarahkan kembali ke dalam
saluran-saluran yang lebih konstruktif. Akan tetapi orang-orang yang neurotis
menyerah pada emosi apa saja yang dominant pada saat itu, berkali-kali
memperlihatkan kemarahan atau kebencian.
Kualitas lain dari keamanan emosional ialah apa yang disebut Allport sabar terhadap kekecewaan. Orang-orang
yang sehat sabar menghadapi kemunduran-kemunduran, tidak menyerah diri kepada
kekecewaan, tetapi mampu memikiran cara-cara yang berbeda, yang kurang
menimbulkan kekecewaan untuk mencapai tujuan-tujuan yang sama atau
tujuan-tujuan substitusi.
4.
Persepsi Realistis
Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Sebaliknya,
orang-orang yang neurotis kerapkali harus mengubah realitas supaya membuatnya sesuai
dengan keinginan, kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan mereka sendiri.
Orang-orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang-orang lain
atau situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangka
pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya.
5.
Keterampilan-keterampilan dan
Tugas-tugas
Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan perkembangan
keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat tertentu, suatu tingkat kemampuan.
Kita harus menggunakan keterampilan-keterampilan itu secara ikhlas, antusias,
melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita.
Allport mengemukakan bahwa ada kemungkinan orang-orang yang memiliki
keterampilan-keterampilan menjadi neurotis, akan tetapi tidak mungkin menemukan
orang-orang yang sehat dan matang yang tidak mengarahkan keterampilan mereka
pada pekerjaan mereka.
Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitis untuk
hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis yang positif
tanpa melakukan pekerjaan yang penting melakukannya dengan dedikasi, komitmen,
dan keterampilan.
6.
Pemahaman Diri
Kepribadian yang sehat mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang lebih
tinggi daripada orang-orang yang neurotis. Orang yang sehat terbuka pada
pendapat orang-orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang objektif.
Orang yang memilii suatu tingkat pemahaman diri (self objectification)
yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas
pribadinya yang negatif kepada orang lain. Allport juga mengemukakan bahwa
orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada
orang yang memiliki wawasan diri yang kurang.
7.
Filsafah Hidup yang Mempersatukan
Bagi Allport rupanya mustahil memiliki suatu kepribadian yang sehat tanpa
aspirasi-aspirasi dan arah ke masa depan. Allport menekankan bahwa nilai-nilai
(bersama dengan tujuan-tujuan) adalah sangat penting bagi perkembangan suatu
filsafat hidup yang mempersatukan.
Memiliki nilai-nilai yang kuat, jelas memisahkan orang yang sehat dari
orang yang neurotis. Orang yang neurotis tidak memiliki nilai-nilai atau hanya
memiliki nilai-nilai yang terpecah-pecah dan bersifat sementara sehingga tidak
cukup kuat untuk mengikat atau mempersatukan semua segi kehidupan.
Suara hati juga ikut berperan dalam suatu filsafat hidup yang
mempersatukan. Suara hati yang tidak matang atau neurotis sama seperti suara
hati kanak-kanak, yang patuh, membudak, penuh dengan pembatasan-pembatasan dan
larangan-larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak ke dalam masa dewasa.
Sedangkan suara hati yang matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tangggung
jawab kepada diri sendiri dan orang lain.
Daftar Pustaka
Schultz, Duane (1991). Psikologi Pertumbuhan.Yogyakarta:
Kanisius.
Basuki, Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas
Gunadarma
dung. bikin post tentang cacat mental dongg alias CAMEN wkwk
BalasHapus