Nama : Diah Kamalia Hanastuti
Kelas
: 2PA06
NPM : 12514954
Teori
Kepribadian Sehat Carl Rogers
Biografi
Carl Rogers
Carl Rogers adalah seorang psikolog yang terkenal dengan pendekatan
terapi klinis yang berpusat pada klien (client centered). Rogers kemudian menyusun teorinya dengan
pengalamannya sebagai terapis selama bertahun-tahun. Teori Rogers mirip dengan
Pendekatan Freud, namun pada hakikatnya Rogers berbeda dengan
Freud karena Rogers menganggap bahwa manusia pada dasarnya baik atau sehat.
Dengan kata lain, Rogers memandang kesehatan mental sebagai proses perkembangan
hidup alamiah, sementara penyakit jiwa, kejahatan, dan persoalan kemanusiaan lain
dipandang sebagai penyimpangan dari kecenderungan alamiah.
Carl Ransom Rogers lahir di Oak Park,
Illinois, pada 8 Januari 1902. Pada umur 12 tahun keluarganya mengusahakan
pertanian dan Rogers menjadi tertarik kepada pertanian secara ilmiah. Pertanian
ini membawanya ke perguruan tinggi, dan pada tahun-tahun pertama Rogers sangat
gemar akan ilmu alam dan ilmu hayat. Setelah menyelesaikan pelajaran di
University of Wisconsin. Pada 1924 Rogers masuk Union Theological College of
Columbia,
disana Rogers mendapat pandangan yang liberal dan filsafat mengenai
agama. Kemudian pindah ke Teachers College of Columbia, disana Rogers
terpengaruh oleh filsafat John Dewey serta mengenal psikologi klinis dengan
bimbingan L. Hollingworth. Rogers mendapat gelar M.A. pada 1928 dan doctor pada
1931 di Columbia. Pengalaman praktisnya yang pertama-tama diperolehnya di
Institute for Child Guidance. Lembaga tersebut orientasinya Freudian. Rogers
menemukan bahwa pemikiran Freudian yang spekulatif itu tidak cocok dengan
pendidikan yang diterimanya yang mementingkan statistik dan pemikiran menurut aliran
Thorndike Setelah mendapat gelar doktor dalam psikologi Rogers menjadi staf
pada Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi pemimpinnya. Selama masa
ini Rogers dipengaruhi oleh Otto Rank, seorang psychoanalyst yang
memisahkan diri dari Freudian yang ortodok. Pada tahun 1940 Rogers menerima
tawaran untuk menjadi guru besar psikologi di Ohio State University.
Perpindahan dari pekerjaan klinis ke suasana akademis ini dirasa oleh Rogers sendiri
sangat tajam. Karena rangsangannya Rogers merasa terpaksa harus membuat pandangannya
dalam psikoterapi itu menjadi jelas. Dan ini dikerjakannya pada 1942 dalam buku
Counseling and Psychotheraphy. Pada tahun 1945 Rogers menjadi mahaguru
psikologi di Universitas of Chicago, yang dijabatnya hingga kini. Tahun
1946-1957 menjadi presiden the American Psychological Association.
Dan meninggal dunia tanggal 4 Februari 1987 karena serangan jantung.
Rogers terkenal sebagai seorang tokoh
psikologi humanis, aliran fenomenologis-eksistensial, psikolog klinis dan
terapis, ide-ide dan konsep teorinya banyak didapatkan dalam
pengalamanpengalaman terapeutiknya. Ide pokok dari teori-teori Rogers yaitu
individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup,
dan menangani masalah-masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi
yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri. Menurut
Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang
sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak-kanak seperti yang
diajukan oleh aliran Freudian, misalnya toilet trainning, penyapihan
ataupun pengalaman seksua sebelumnya.
Rogers lebih melihat pada masa sekarang,
dia berpendapat
bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang
masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap
berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu. Rogers
dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat menekankan pada
realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan berbeda-beda
tergantung pada pengalaman-pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman ini
disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima istilah self sebagai
fakta dari lapangan fenomenal tersebut.
Perkembangan Kepribadian “Self”
Self atau self concept adalah konsep
menyeluruh yang terorganisir mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku
dan membedakan aku dari yang bukan aku. Self concept menggambarkan
konsep orang mengenai dirinya sendiri, ciri-ciri yang dianggapnya menjadi
bagian dari dirinya, pandangan diri dalam berbagai perannya dalam kehidupan dan
dalam kaitannya dengan hubungan interpersonal. Konsep pokok dari teori
kepribadian Rogers adalah self, sehingga dapat dikatakan selfmerupakan
struktur kepribadian yang sebenarnya. Carl Rogers mendeskripsikan the
self atau self-structure sebagai sebuah konstruk yang menunjukan
bagaimana setiap individu melihat dirinya sendiri.
Self ini dibagi 2 yaitu:
a.
Real Self, merupakan
keadaan diri individu saat ini
b.
Ideal Self,
merupakan keadaan diri individu yang ingin dilihat oleh individu itu sendiri
atau apa yang ingin dicapai oleh individu tersebut.
Perhatian Rogers yang utama adalah bagaimana organisme dan self dapat
dibuat lebih kongruen/ sebidang. Artinya ada saat dimana self berada pada
keadaan inkongruen, kongruensi self ditentukan oleh kematangan,
penyesuaian, dan kesehatan mental, self yang kongruen adalah yang mampu untuk
menyamakan antara interpretasi dan persepsi “self I” dan “self me” sesuai
dengan realitas dan interpretasi self yang lain. Semakin lebar jarak
antara keduanya, semakin lebar ketidaksebidangan ini. Semakin besar
ketidaksebidangan, maka semakin besar pula penderitaan yang dirasakan dan jika
tidak mampu maka akan terjadi ingkongruensi atau mal-adjustment atau neurosis.
Misalkan anda memiliki ideal self sebagai orang yang memiliki
bentuk tubuh ideal serta memiliki prestasi yang tinggi dibanding teman-teman
anda, tetapi nyatanya real self anda adalah orang yang tidak
memiliki bentuk tubuh yang ideal serta prestasi anda adalah rata-rata dengan
teman-teman anda maka akan ada kesenjangan antara real self dan ideal
self yang dapat menimbulkan
kecemasan.
Bila seseorang, antara “self concept”nya dengan organisme mengalami
keterpaduan, maka hubungan itu disebut kongruen (cocok) tapi bila sebaliknya
maka disebut Inkongruen (tidak cocok) yang bisa menyebabkan orang mengalami
sakit mental, seperti merasa terancam, cemas, defensive dan berpikir kaku serta
picik. Sedangkan ciri-ciri orang yang mengalami sehat secara psikologis
(kongruen), dalam Syamsu dan Juntika (2010:145) disebutkan sebagai berikut:
1. Seseorang mampu mempersepsi dirinya, orang lain dan berbagai peristiwa yang
terjadi di lingkungannya secara objektif
2. Terbuka terhadap semua pengalaman, karena tidak mengancam konsep dirinya
3. Mampu menggunakan semua pengalaman
4. Mampu mengembangkan diri ke arah aktualisasi diri (fully functioning
person).
5. Bagian dari medan fenomenal yang terdiferensiasikan dan terdiri dari pola-pola
pengamatan dan penilaian sadar atas diri sendiri.
6. Berkembang dari interaksi dengan lingkungan
7. Individu berperilaku dengan cara yang selaras/ konsisten dengan self
8. Pengalaman yang tidak selaras dengan self dianggap sebagai ancaman
9. Self mungkin berubah sebagai hasil dari maturation dan proses belajar
Peranan Positive Regard
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan,
penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain (warmth, liking, respect, sympathy & acceptance, love &
affection). Kebutuhan ini disebut need for positive regard.
Positive regard terbagi menjadi 2 yaitu:
Conditional positive regard (bersyarat) Conditional positive regard atau
penghargaan positif bersyarat misalnya kebanyakan orang tua memuji,
menghormati, dan mencintai anak dengan bersyarat,yaitu sejauh anak itu berpikir
dan bertingkah laku seperti dikehendaki orangtua.
Unconditional positive regard (tak
bersyarat). Unconditional positive regard disini
anak tanpa syarat apapun dihargai dan diterima sepenuhnya.
Rogers
menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami
penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena
nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak
bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.
Setelah self dan organism bisa menjadi suatu
kesatuan yang baik, namun ketika ia masuk ke lingkungan sosial luar yang
beperan sebagai medan phenomenal. Belum tentu ia dapat berkembang dengan
sebagaimana mestinya.
Untuk
mengatasi tekanan yang dirasakan, Rogers berpendapat terdapat cara untuk
mengatasinya, yaitu melalui Pertahanan. Ketika individu berada dalam incongruity maka pada saat itu individu berada
dalam situasi terancam. Menjelang situasi yang mengancam itu individu akan
merasa cemas. Salah satu cara menghindarinya adalah dengan melarikan diri dalam
bentuk psikologis dengan menggunakan pertahanan-pertahanan. Dua macam cara
pertahanan adalah pengingkaran dan distorsi perseptual.
Pengingkaran
adalah individu memblokir situasi yang mengancam melalui menyingkirkan kenangan
buruk atau rangsangan yang memancing kenangan itu munculdari kesadaran (menolak
untuk mengingatnya). Distorsi perseptual adalah penafsiran kembali sebuah
situasi sedemikian rupasehingga tidak lagi dirasakan terlalu mengancam. Ketika
pertahanan yang dilakukan seseorang runtuh dan merasa dirinya hancur
berkeping-keping disebut sebagai psikosis. Akibatnya perilaku individu menjadi
tidak konsisten, kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak nyambung, emosinya
tidak tertata, tidak mampu membedakan antara diri dan bukan diri serta menjadi
individu yang tidak punya arah dan pasif.
Sifat Khas
Orang yang Berfungsi Penuh
Keterbukaan pada Pengalaman
Keterbukaan pada pengalaman adalah lawan dari sikap
defensif. Setiap pendirian dan perasaan yang berasal dari dalam dan dari luar
disampaikan ke system saraf organisme tanpa distorsi atau rintangan.
Orang yang demikian mengetahui segala sesuatu tentang
kodratnya; tidak ada segi kepribadian tertutup. Kepribadian adalah fleksibel,
tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan,
tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan
persepsidan ungkapan baru. Sebaliknya, kepribadian orang yang defensif, yang
beroperasi menurut syarat-syarat penghargaan adalah statis, bersembunyi di
belakang peranan-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan mengetahui
pengalaman-pengalaman tertentu.
Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih
“emosional” dalam pengertian bahwa dia mengalami banyak emosi yang bersifat
positif dan negatif (misalnya, baik kegembiraan maupun kesusahan) dan mengalami
emosi-emosi itu lebih kuat daripada orang yang defensif.
Kehidupan Eksistensial
Orang yang berfungsi
sepenuhnya, hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan, karena orang yang
sehat terbuka kepada semua pengalaman, maka diri atau kepribadian terus-menerus
dipengaruhi atau disegarkan oleh tiap pengalaman, akan tetapi orang yang defensif
harus mengubah suatu pengalaman baru untuk membuatnya harmonis dengan diri; dia
memiliki suatu struktur diri yang berprasangka dimana semua pengalaman harus
cocok dengannya.
Rogers percaya
bahwa kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat
esensial dari kepribadian yang sehat. Kepribadian terbuka kepada segala sesuatu
yang terjadi pada momen itu dan dia menemukan dalam setiap pengalaman suatu
struktur yang dapat berubah dengan mudah sebagai respons atas pengalaman momen
yang berikutnya.
Kepercayaan Terhadap Organisme Orang
Sendiri
Prinsip ini mungkin
paling baik dipahami dengan menunjuk kepada pengalaman Rogers sendiri.
Dia menulis “apabila suatu aktivitas
terasa seakan-akan berharga atau perlu dilakukan, maka aktivitas itu perlu dilakukan.
Dengan kata lain saya telah belajar bahwa seluruh perasaan organismik saya
terhadap suatu situasi lebih dapat dipercaya daripada pikiran saya?”
Dengan kata lain,
bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar, merupakan pedoman yang sangat
dapat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan, lebih dapat diandalkan
daripada faktor-faktor rasional atau intelektual.
Karena seluruh
kepribadian mengambil bagian dalam proses membuat keputusan, maka orang-orang
yang sehat percaya akan keputusan mereka, seperti mereka percaya akan diri
mereka sendiri. Sebaliknya orang-orang yang defensif membuat
keputusan-keputusan menurut larangan-larangan yang membimbing tingkah lakunya.
Perasaan Bebas
Rogers percaya bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis,
semakin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang
sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau
rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan, dan juga memiliki
perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa
depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan, atau
peristiwa-peristiwa masa lampau, karena merasa bebas dan berkuasa maka orang
yang sehat melihat sangat banyak pilihan dalam kehidupan dan merasa mampu
melakukan apa saja yang mungkin ingin dilakukannya.
Orang yang defensif tidak memiliki perasaan-perasaan bebas. Orang ini dapat
memutuskan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu, namun tidak dapat
mewujudkan pilihan bebas itu ke dalam tingkah laku yang aktual.
Kreativitas
Semua orang yang
berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Orang yang kreatif kerpakali benar-benar
menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari situasi khusus apabila
konformitas yang demikian itu akan membantu memuaskan kebutuhan merka dan
memungkinkan mereka mengmbangkan diri mereka sampai ke tingkat paling penuh.
Orang yang defensif,
yang kurang merasa bebas, yang tertutup terhadap banyak pengalaman, dan yang
hidup dalam garis-garis pedoman yang telah dikodratkan adalah tidak kreatif dan
tidak spontan.
Rogers percaya
bahwa orang-orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menyesuaikan diri dan
bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam kondisi-kondisi
lingkungan. Mereka memiliki kreativitas dan spontanitas untuk menanggulangi
perubahan-perubahan traumatis seklipun seperti dalam pertempuran atau
bencana-bencana alamiah.
Daftar Pustaka
1.
Schultz,
Duanne. (1991). Psikologi
Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius