Nama : Diah Kamalia Hanastuti
Kelas : 2PA06
NPM : 12514954
A.
Orientasi
Kesehatan Mental
Banyak pengertian dan
definisi tentang kesehatan mental yang diberikan oleh para ahli sesuai
dengan pandangan di bidang masing-masing.
Kesehatan mental adalah
terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari
gejala-gejala penyakit jiwa (psychose)
Berbagai kalangan
psikiatri (kedokteran jiwa) menyambut baik definisi ini. Seseorang dikatakan
bermental sehat bila terhindar dari gangguan atau penyakit jiwa, yaitu adanya
perasaan cemas tanpa diketahui sebabnya, malas, hilangnya kegairahan bekerja
pada diri seseorang dan bila gejala ini meningkat akan menyebabkan penyakit anxiety, neurasthenia dan hysteria.
Adapun orang yang sakit jiwa biasanya akan memiliki pandangan berbeda dengan
orang lain inilah yang dikenal dengan orang gila.
Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri
sendiri, dengan orang lain dan masyarakat sera lingkungan tempat ia hidup.
Definisi ini lebih luas
dan bersifat umum karena berhubungan dengan kehidupan manusia pada
umumnya. Menurut definisi ini seseorang dikatakan bermental sehat bila dia
menguasai dirinya sehingga terhindar dari tekanan-tekanan perasaan atau hal-hal
yang menyebabkan frustasi. Orang yang mampu menyesuaikan diri akan merasakan
kebahagiaan dalam hidup karena tidak diliputi dengan perasaan-perasaan cemas,
gelisah, dan ketidakpuasan. Sebaliknya akan memiliki semangat yang tinggi dalam
menjalani hidupnya. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri, harus
lebih dahulu mengenal diri sendiri, menerima apa adanya, bertindak sesuai kemampuan
dan kekurangan. Ini bukan berarti harus mengabaikan orang lain. Dalam
definisi ini orang yang sehat mentalnya ialah orang yang dapat menguasai segala
faktor dalam hidupnya, sehingga dapat menghindarkan diri dari tekanan-tekanan
perasaan yang menimbulkan frustasi.
Secara
singkat dapat dikatakan ilmu kesehatan mental adalah ilmu yang memperhatikan
perawatan mental dan jiwa. Sama seperti ilmu pengetahuan yang lai, ilmu
kesehatan mental atau jiwa. Sama seperti ilmu pengetahuan yang lain, ilmu
kesehatan mental mempunyai objek khusus untuk diteliti dan objek tersebut
adalah manusia. Manusia dalam ilmu ini diteliti dari titik tolak keadaan atau
kondisi mentalnya. Ilmu kesehatan mental merupakan terjemahan dari istilah
mental hygiene. Mental (dari kata Latin: mens, mentis) berarti jiwa, nyawa,
sukma, roh, semangat, sedangkan hygiene (dari
kata Yunani: hugiene) berarti ilmu tentang kesehatan. Mental hygiene sering juga disebut psikohygiene. Psyche (dari kata Yunani: psucho) berarti nafas, asas kehidupan, hidup, jiwa,
roh, sukma, semangat. Ada orang yang membedakan antara mental hygiene dan psikohygiene. Mental hygiene menitikberatkan kehidupan kerohanian,
sedangkan psikohygiene menitikberatkan
manusia sebagai totalitas psikofisik atau psikosomatik. Sehingga ilmu kesehatan
mental itu adalah ilmu yang membicarakan kehidupan mental manusia dengan
memandang manusia sebagai totalitas psikofisik yang kompleks.
Ilmu ini pada hakikatnya bersifat preventif dan tujuannya yang utama adalah
untuk memelihara kesehatan dan efisiensi mental. Untuk mencapai tujuan
tersebut, tentu saja tidak hanya satu rumusan dapat dipakai untuk melindungi
diri sepenuhnya terhadap kecemasan dan tegangan-tegangan kronis yang muncul
dari konflik-konflik dan frustasi-frustasi.
Menurut Saparianah Sadli, mengemukakan tiga
orientasi dalam kesehatan jiwa yaitu:
1. Orientasi Klasik
Seseorang dianggap sehat apabila ia tidak
mempunyai keluhan tertentu seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri
atau perasaan tidak berguna yang semuanya menimbulkan perasaan sakit atau rasa
tidak sehat, serta menggangu efisiensi kegiatan sehari-hari. Dalam definisi
ini, orientasi klasik mengemukakan orang yang sehat berarti orang yang tidak
mempunyai berbagai keluhan yang berakibat sakit untuk dirinya di dalam
kehidupan sehari-hari. Seperti tidak cepat merasa lelah, cemas, tidak percaya
diri, cepat putus asa, perasaan tidak berguna dan lain sebagainya. Biasanya
ranah cakupan orientasi klasik ini banyak berkembang didunia kedokteran.
2. Orientasi Penyesuaian Diri
Orientasi penyesuaian diri adalah, seseorang
dianggap sehat mental bila ia mampu mengembangakan dirinya sesuai dengan
tuntutan orang-orang lain serta lingkungan sekitarnya. Definisi berikut berarti,
orang dikatakan sehat apabila ia mampu bergaul dengan orang-orang disekitarnya.
Karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan pernah bisa untuk hidup
sendiri tanpa bantuan orang lain.
3. Orientasi Pengembangan Potensi
Orientasi pengembangan potensi adalah, seseorang
dianggap mencapai taraf kesehatan jiwa bila ia mendapat kesempatan untuk
mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga ia bisa dihargai oleh
orang lain dan dirinya sendiri. Definisi diatas berarti orang dikatakan sehat
apabila ia berhasil mengembangkan dirinya sesuai dengan bakat dan kreativitas
yang ia miliki sehingga ia bisa dihargai oleh masyarakat diluar sana.
B. Konsep Sehat
Konsep sehat merupakan sebuah keadaan normal
yang sesuai dengan standar yang diterima berdasarkan kriteria tertentu, sesuai
jenis kelamin dan komunitas masyarakat. Konsep sehat, sebuah keadaan
normal yang sesuai dengan standar yang diterima berdasarkan kriteria tertentu,
sesuai jenis kelamin dan komunitas masyarakat.
Pengertian
sehat menurut WHO adalah suatu keadaan
yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit
atau kelemahan. Dan beberapa pengertian sehat lainnya yaitu
diantaranya :
a.
Sehat adalah
perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan
orang lain (aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri
yang kompeten sedangkan penyesuaian diperlukan
untuk mempertahankan stabilitas dan integritas struktural. ( Menurut Pender,
1982)
b.
Sehat / kesehatan
adalah suatu keadaan sejahtera dari badan (jasmani), jiwa (rohani) dan sosial
yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. (Menurut
UU N0. 23/1992 tentang Kesehatan).
c.
Sehat adalah fungsi
efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care resouces) yang
menjamin tindakan untuk perawatan diri (self care actions) secara adekuat. Self
care resouces mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care actions
merupakan perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahankan
dan meningkatkan fungsi psikososial dan spiritual. (Menurut Paune, 1983)
Dan definisi sehat
menurut WHO tersebut, terdapat empat komponen penting yang merupakan satu
kesatuan dalam definisi sehat yaitu:
a. Sehat Jasmani
Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa
sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir
rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan
baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.
b. Sehat Mental
Sehat mental dan sehat jasmani selalu dihubungkan satu sama lain dalam
pepatah kuno Men Sana In Corpore Sano,
yang artinya dalam jiwa yang sehat terdapat di dalam tubuh yang sehat.
Atribut seorang insan
yang memiliki mental yang sehat adalah, selalu merasa puas dengan apa yang ada
pada dirinya, tidak pernah menyesal dan kasihan terhadap dirinya, selalu
gembira, santai dan menyenangkan serta tidak ada tanda-tanda konflik kejiwaan. Dapat bergaul dengan baik dan dapat menerima
kritik serta tidak mudah tersinggung dan marah, selalu pengertian dan toleransi
terhadap kebutuhan emosi orang lain. Dapat mengontrol diri dan tidak mudah
emosi serta tidak mudah takut, cemburu, benci serta menghadapi dan dapat
menyelesaikan masalah secara cerdik dan bijaksana.
c. Kesejahteraan Sosial
Batasan kesejahteraan sosial yang ada di setiap tempat atau negara sulit
diukur dan sangat tergantung pada kultur, kebudayaan dan tingkat kemakmuran
masyarakat setempat. Dalam arti yang lebih hakiki, kesejahteraan sosial adalah
suasana kehidupan berupa perasaan aman damai dan sejahtera, cukup pangan,
sandang dan papan. Dalam kehidupan masyarakat yang sejahtera, masyarakat hidup
tertib dan selalu menghargai kepentingan orang lain serta masyarakat umum.
d. Sehat Spiritual
Spiritual merupakan komponen tambahan pada definisi sehat oleh WHO dan
memiliki arti penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Setiap individu
perlu mendapat pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk berlibur,
mendengar alunan lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah agama dan
lainnya agar terjadi keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak monoton.
Keempat komponen ini
dikenal sebagai sehat positif atau disebut sebagai “Positive Health” karena
lebih realistis dibandingkan dengan definisi WHO yang hanya bersifat idealistik
semata-mata. Manusia yang sehat mental adalah manusia yang mampu menguasai
segala factor dalam hidupnya sehingga ia dapat menguasai kekalutan mental
sebagai akibat daritekanan-tekanan perasaan.
Manusia
yang sehat adalah yang memiliki harapan hidup optimis. Manusia yang sehat
mental adalah manusia yang mampu memamfaatkan segala potensi, kapasitas,
kreativitas, energy dan dorongan dalam diri. Efesiensi mental: Menggunakan
kapasitas-kapasitas untuk mencapai tujuan hidup sebaik mungkin.
Manusia sehat mental
adalah manusia yang memanfaatkan kapasitas secara efektif. Pribadi normal
dengan mental yang sehat akan bertingkah laku adekuat dan dapat diterima oleh
masyarakat luas. Sikap hidup individu yang sehat dan normal adalah sikap yang
sesuai dengan norma dan pola hidup kelompok masyarakat, sehingga ada relasi
interpersonal dan intersosial yang memuaskan. Pribadi normal dengan mental yang
sehat selalu memperlihatkan reaksi-reaksi personal yang tepat terhadap
stimulasi eksternal (manusia makhluk sosial). Normalitas dan kesehatan mental
ditandai:
a.
Integrasi kejiwaan
b.
Kesesuaian antara tingkah laku sndiri
dengan tingkah laku social.
c.
Adanya kesanggupan melaksanakan
tugas-tugas hidup dan tanggungjawab social.
d.
Efesiensi dalammenanggapi realitas hidup
C.
Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Kesehatan mental mulai menjadi perhatian banyak orang sejak
perang dunia ke II. Sejak awal perang dunia ke II kesehatan mental bukan lagi
suatu istilah yang asing bagi orang-orang namun menjadi sesuatu yang perlu di
perhatikan. Dalam bidang kesehatan mental kita dapat memahami bahwa gangguan
mental itu telah terjadi sejak awal peradaban manusia dan sekaligus telah ada
upaya-upaya mengatasinya sejalan dengan peradaban. Berikut periodesasi sejarah
ilmu perkembangan kesehatan mental:
a. Zaman Prasejarah
Manusia purba sering mengalami gangguan
mental atau fisik, seperti infeksi, artritis, dll. Mereka memandang dan
merawatnya sama seperti halnya penyakit-penyakit fisik lainnya. Dengan cara menggosok,
menjilat, menghisap sampai memotong dan membalut.
b.
Zaman peradaban awal
Phytagoras merupakan orang yang pertama memberi penjelasan alamiah terhadap
penyakit mental. Hypocrates, ia berpendapat penyakit/gangguan otak adalah
penyebab penyakit mental. Plato berpendapat bahwa gangguan mental sebagian
gangguan moral, gangguan fisik dan sebagiaan lagi dari dewa-dewa.
c. Zaman Renaissesus
Pada zaman ini di beberapa negara Eropa, para tokoh keagamaan, ilmu
kedokteran dan filsafat mulai menyangkal anggapan bahwa pasien sakit mental
tenggelam dalam dunia tahayul.
d. Era Pra Ilmiah
Kepercayaan Animisme
Sejak zaman dulu
gangguan mental telah muncul dalam konsep primitif, yaitu kepercayaan terhadap
faham animisme bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau
dewa-dewa. Orang Yunani kuno percaya bahwa orang mengalami gangguan mental,
karena dewa marah kepadanya dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari
kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dan
kurban.
Kepercayaan
Naturalisme
Suatu aliran yang
berpendapat bahwa gangguan mental dan fisik itu akibat dari alam. Hipocrates
(460-367) menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu sebagai penyebab sakit.
Dia mengatakan, jika anda memotong batok kepala, maka anda akan menemukan otak
yang basah, dan mencium bau amis. Tapi anda tidak akan melihat roh, dewa, atau
hantu yang melukai badan anda. Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel
(1745-1826) menggunakan filsafat polotik dan sosial yang baru untuk memecahkan
problem penyakit mental. Dia terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di
Paris. Di rumah sakit ini, pasiennya dirantai, diikat ketembok dan tempat
tidur. Para pasien yang telah di rantai selama 20 tahun atau lebih, dan mereka
dianggap sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya,
diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak lagi menunjukkan
kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya.
e.
Era Modern
Perubahan luar biasa dalam sikap dan cara pengobatan gangguan mental
terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika
pada tahun 1783. Ketika itu Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staf
medis di rumah sakit Pensylvania. Di rumah sakit ini ada 24 pasien yang
dianggap sebagai lunatics (orang gila atau sakit ingatan).
Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan tentang penyebab dan cara menyembuhkan
penyakit tersebut. Akibatnya pasien-pasien dikurung dalam ruang tertutup, dan
mereka sekali-kali diguyur dengan air. Rush melakukan suatu usaha yang sangat
berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental tersebut
melalui penulisan artikel-artikel. Secara berkesinambungan, Rush mengadakan
pengobatan kepada pasien dengan memberikan dorongan (motivasi) untuk mau
bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan.
Pada tahun 1909, gerakan mental hygiene secara
formal mulai muncul. Perkembangan gerakan mental hygiene ini tidak
lepas dari jasa Clifford Whitting Beers (1876-1943) bahkan karena jasanya itu
ia dinobatkan sebagai The Founder of the Mental Hygiene Movement.
Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan
pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.
Secara hukum, gerakan mental hygiene ini mendapat
pengakuan pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat
menandatangani The National Mental HealthAct, yang berisi
program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental
seluruh warga masyarakat. Beberapa tujuan yang terkandung dalam dokumen
tersebut meliputi:
1.
Meningkatkan kesehatan mental seluruh
warga masyarakat Amerika Serikat, melalui penelitian, investigasi, eksperimen,
penayangan kasus-kasus, diagnosis, dan pengobatan.
2.
Membantu lembaga-lembaga pemerintah dan
swasta yang melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan koordinasi antara
para peneliti dalam melakukan kegiatan dan mengaplikasikan hasil-hasil
penelitiannya.
3.
Memberikan latihan terhadap para
personel tentang kesehatan mental.
4.
Mengembangkan dan membantu negara dalam
menerapkan berbagai metode pencegahan, diagnosis, dan pengobatan terhadap para
pengidap gangguan mental.
Pada tahun 1950, organisasi mental hygiene terus
bertambah, yaitu dengan berdirinya National Association for Mental
Health. Gerakan mental hygiene ini terus berkembang sehingga pada tahun
1975 di Amerika terdapat lebih dari seribu perkumpulan kesehatan mental. Di
belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui The World
Federation for Mental Health dan The World Health
Organization.
D. Pendekatan Kesehatan Mental
a. Orientasi Klasik
Orientasi klasik yang umumnya digunakan dalam
kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan,
baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai
keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada
keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan mental. Sehat atau
tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan
penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan
diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang
tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental.
Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri,
pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat
individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama
norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental
seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga
pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam
masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi
dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau
sakit mental bukan sesuatu yang absolut.
b.
Orientasi Penyesuaian Diri
Penyesuaian
diri merupakan dasar bagi penentuan derajat kesehatan mental seseorang. Orang
yang dapat menyesuaikan diri secara aktif dan realistis sambil tetap
mempertahankan stabilitas diri mengindikasikan adanya kesehatan mental yang
tinggi pada dirinya. Sebaliknya mereka yang tidak mampu menyesuaikan diri
secara aktif, tidak realistik dan tidak stabil dirinya menunjukkan rendahnya
kesehatan mental pada dirinya. Dengan kata lain kemampuan penyesuaian diri merupakan
variabel utama dalam kesehatan mental. Dengan demikian dapat dipahami bahwa
peningkatan derajat kesehatan mental setara dengan peningkatan kemampuan
penyesuaian diri yang aktif, realistik disertai dengan stabilitas diri.
Kemampuan penyesuaian diri idealnya dilatih dan dibina sejak kecil
Dalam
banyak literatur psikologi kesehatan, pengembangan diri dan kemampuan
penyesuaian diri merupakan salah satu indikasi dari kepribadian yang sehat.
Kita dapat melihat di antaranya dalam uraian-uraian Gordon W. Allport, Carl
Rogers, Abraham Maslow dan Viktor Frankl. Pemikiran mereka menegaskan bahwa
pribadi yang sehat selalu ditandai dengan keinginan untuk tumbuh dan
berkembang, berorientasi ke masa depan sambil tetap realistis dan mampu
melakukan inovasi bagi diri serta lingkungannya. Artinya perbaikan kemampuan
penyesuaian diri tidak hanya perlu dilakukan pada mereka yang mengalami
gangguan mental tetapi juga pada siapa saja.
c.
Orientasi Pengembangan Potensi
Mewujudnyatakan potensi
seperti bakat, kreativitas, minat dan lain-lain dalam diri individu. Pelepasan
sumber-sumber yg tersembunyi dari bakat, kreativitas, Energi dan dorongan
(Schultz, 991). Dibutuhkan fokus yang lebih untuk mencapai arah tujuan atau potensi
diri yang lebih dikembangkan. Pengembangan potensi ini juga dipengaruhi peranan
keluarga, sekolah dan masyarakat. Juga adanya kesempatan yang diberikan
lingkungan pada individu baik yang potensinya masih tersembunyi maupun yang
sudah ditemukan.
Sumber dan Referensi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar