Sikap Anda di Twitter
Dipengaruhi Siapa yang Anda Follow
on 12 Nov 2015 at 06:40 WIB
Ilustrasi Twitter
(Sumber : Businesstimes.com)
Liputan6.com,
Jakarta - Emosi dari orang-orang yang di-follow ternyata sangat
mempengaruhi kepribadian seseorang dalam bertindak di Twitter. Hal ini
dibuktikan para peneliti dari University of Southern Carolina.
Menurut
para peneliti tersebut, tweet para pengguna cenderung
sejalan dengan ekspresi emosi orang-orang yang mereka follow. Dengan demikian, kicauan
marah, kebencian, atau negatif dari pengguna yang di-follow kemungkinan besar akan
membuat Anda men-tweet sentimen yang sama.
Pengguna
yang terekspos serangkaian tweet negatif lebih mungkin mem-posting pesan negatif di jejaring
sosial. Namun, tweet positif memberikan efek
yang jauh lebih besar. Hal ini disebabkan oleh adanya efek "penularan
emosional".
"Apa yang Anda tweet atau share di media sosial seringkali Anda tidak hanya mengekspresikan diri sendiri, tapi juga mempengaruhi orang lain," tutur Dr Emilio Ferrara yang memimpin studi tersebut.
"Apa yang Anda tweet atau share di media sosial seringkali Anda tidak hanya mengekspresikan diri sendiri, tapi juga mempengaruhi orang lain," tutur Dr Emilio Ferrara yang memimpin studi tersebut.
Para
peneliti memantau 3.800 pengguna Twitter dan sentimen yang ada di linimasa
menggunakan sebuah alat analisis bernama SentiStrength.
Di antara tweet-tweet negatif, ekspresi yang
paling umum adalah kemarahan dan ketakutan. Demikian dikutip dari Telegraph, Kamis (12/11/2015)
Analisis
Menurut saya, kasus di
atas dapat dikaitkan dengan teori Psikologi Analitik yang dipelopori oleh Carl
Gustav Jung. Dalam teorinya, terdapat tingkatan psyche atau tingkatan kepribadian; Kesadaran (Ego), Ketidaksadaran,
Ketidaksadaran Kolektif. Dalam ketidaksadaran kolektif terdapat arketipe, yaitu
pola emosi yang telah terbentuk lama yang muncul sebagai reaksi atas
pengalaman, hal ini mempengaruhi manusia untuk bereaksi dengan cara-cara yang
dapat diprediksi pada stimulus tertentu. Arketipe terbagi menjadi beberapa
bagian, seperti Persona, Shadow, Anima, Animus, Great Mother, Wise Old Man,
Hero, and Self. Pada kasus yang sudah saya ambil, saya akan mengaitkannya dalam
teori Jung, lebih ke 2 bagian arketipenya.
Sisi
kepribadian yang ditunjukkan seseorang kepada dunia disebut persona. Pemilihan
istilah ini sangat tepat karena mengacu pada topeng yang digunakan oleh pemain
teater pada masa itu. Jung percaya bahwa setiap manusia terlibat dalam peranan
tertentu yang dituntut oleh sosial atau lingkungan sosialnya. Meskipun persona
merupakan sisi yang penting dalam kepribadian kita, sebaiknya kita tidak
mencampurkan bagian yang ditampilkan di depan publik dengan diri kita. Jika
kita terlalu dekat dengan persona, maka kita akan membangun ketidaksadaran
mengenai individualitas dan dibatasi dalam proses mencapai realisasi diri.
Benar, bahwa kita harus diterima oleh masyarakat, tetapi jika kita terlalu
identik dengan persona, maka kita akan kehilangan sentuhan inner self dan cenderung untuk memenuhi harapan sosial. Agar
menjadi sehat secara psikologis, Jung percaya bahwa kita harus bisa
mempertahankan keseimbangan antara harapan sosial dengan bagaimana kepribadian
kita sebenarnya.
Menurut saya, umumnya seseorang
bermain twitter, seperti mengungkapkan kekesalan, kesedihan, kegembiraan, dan
sebagainya karena mereka ingin dianggap oleh masyarakat, ingin diterima oleh
masyarakat. Misalnya, selain sebagai sumber informasi, seseorang bermain
twitter agar terlihat “gaul” atau terlihat tidak “kuper”. Dalam arketipe yang ada pada teori Jung, ini termasuk ke
dalam arketipe persona.
Arketipe kedua, yaitu
Shadow (bayangan). Shadow merupakan arketipe dari kegelapan dan represi yang
menampilkan kualitas-kualitas yang tidak kita akui keberadaannya serta berusaha
disembunyikan dari diri kita sendiri dan orang lain. Kebanyakan seseorang
bermain media sosial, termasuk twitter tidak seperti apa yang terlihat. Kepribadian,
sikap yang terlihat saat ia bermain sosial media belum tentu, merupakan
kepribadian dan sikap asli mereka saat di dunia nyata.
Sumber:
2.
Teori Kepribadian/Jess Feist, Gregory J.
Feist





