Rabu, 25 November 2015

Tugas Softskill 2; Psikologi dan Internet


Sikap Anda di Twitter Dipengaruhi Siapa yang Anda Follow
on 12 Nov 2015 at 06:40 WIB




     Ilustrasi Twitter (Sumber : Businesstimes.com)
     Liputan6.com, Jakarta - Emosi dari orang-orang yang di-follow ternyata sangat mempengaruhi kepribadian seseorang dalam bertindak di Twitter. Hal ini dibuktikan para peneliti dari University of Southern Carolina.
Menurut para peneliti tersebut, tweet para pengguna cenderung sejalan dengan ekspresi emosi orang-orang yang mereka follow. Dengan demikian, kicauan marah, kebencian, atau negatif dari pengguna yang di-follow kemungkinan besar akan membuat Anda men-tweet sentimen yang sama.
Pengguna yang terekspos serangkaian tweet negatif lebih mungkin mem-posting pesan negatif di jejaring sosial. Namun, tweet positif memberikan efek yang jauh lebih besar. Hal ini disebabkan oleh adanya efek "penularan emosional".
"Apa yang Anda tweet atau share di media sosial seringkali Anda tidak hanya mengekspresikan diri sendiri, tapi juga mempengaruhi orang lain," tutur Dr Emilio Ferrara yang memimpin studi tersebut.
Para peneliti memantau 3.800 pengguna Twitter dan sentimen yang ada di linimasa menggunakan sebuah alat analisis bernama SentiStrength. Di antara tweet-tweet negatif, ekspresi yang paling umum adalah kemarahan dan ketakutan. Demikian dikutip dari Telegraph, Kamis (12/11/2015)


Analisis
            Menurut saya, kasus di atas dapat dikaitkan dengan teori Psikologi Analitik yang dipelopori oleh Carl Gustav Jung. Dalam teorinya, terdapat tingkatan psyche atau tingkatan kepribadian; Kesadaran (Ego), Ketidaksadaran, Ketidaksadaran Kolektif. Dalam ketidaksadaran kolektif terdapat arketipe, yaitu pola emosi yang telah terbentuk lama yang muncul sebagai reaksi atas pengalaman, hal ini mempengaruhi manusia untuk bereaksi dengan cara-cara yang dapat diprediksi pada stimulus tertentu. Arketipe terbagi menjadi beberapa bagian, seperti Persona, Shadow, Anima, Animus, Great Mother, Wise Old Man, Hero, and Self. Pada kasus yang sudah saya ambil, saya akan mengaitkannya dalam teori Jung, lebih ke 2 bagian arketipenya.
Sisi kepribadian yang ditunjukkan seseorang kepada dunia disebut persona. Pemilihan istilah ini sangat tepat karena mengacu pada topeng yang digunakan oleh pemain teater pada masa itu. Jung percaya bahwa setiap manusia terlibat dalam peranan tertentu yang dituntut oleh sosial atau lingkungan sosialnya. Meskipun persona merupakan sisi yang penting dalam kepribadian kita, sebaiknya kita tidak mencampurkan bagian yang ditampilkan di depan publik dengan diri kita. Jika kita terlalu dekat dengan persona, maka kita akan membangun ketidaksadaran mengenai individualitas dan dibatasi dalam proses mencapai realisasi diri. Benar, bahwa kita harus diterima oleh masyarakat, tetapi jika kita terlalu identik dengan persona, maka kita akan kehilangan sentuhan inner self dan cenderung untuk memenuhi harapan sosial. Agar menjadi sehat secara psikologis, Jung percaya bahwa kita harus bisa mempertahankan keseimbangan antara harapan sosial dengan bagaimana kepribadian kita sebenarnya.
            Menurut saya, umumnya seseorang bermain twitter, seperti mengungkapkan kekesalan, kesedihan, kegembiraan, dan sebagainya karena mereka ingin dianggap oleh masyarakat, ingin diterima oleh masyarakat. Misalnya, selain sebagai sumber informasi, seseorang bermain twitter agar terlihat “gaul” atau terlihat tidak “kuper”. Dalam arketipe  yang ada pada teori Jung, ini termasuk ke dalam arketipe persona.
Arketipe kedua, yaitu Shadow (bayangan). Shadow merupakan arketipe dari kegelapan dan represi yang menampilkan kualitas-kualitas yang tidak kita akui keberadaannya serta berusaha disembunyikan dari diri kita sendiri dan orang lain. Kebanyakan seseorang bermain media sosial, termasuk twitter tidak seperti apa yang terlihat. Kepribadian, sikap yang terlihat saat ia bermain sosial media belum tentu, merupakan kepribadian dan sikap asli mereka saat di dunia nyata.

Sumber:
2.      Teori Kepribadian/Jess Feist, Gregory J. Feist