Sabtu, 16 April 2016

Tugas 8 Kesehatan Mental


Nama  : Diah Kamalia Hanastuti
Kelas   : 2PA06
NPM   : 12514954
Stress

A.    Arti Penting Stress
a.      Pengertian Stress dan Efeknya
Stress merupakan bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain. Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang.
b.      General Adaption Syndrome
GAS atau General Adaption Syndrome adalah reaksi fisiologis dan psikobiologis yang ditimbulkan akibat stress. Contohnya hilangnya nafsu makan, melemahnya otot, menurunnya minat, perasaan cemas, dan sebagainya. GAS diperkenalkan oleh Hans De Selye pada tahun 1920. Hans De Selye menjelaskan model GAS dalam 3 (tiga) model tahapan:
1.      State of Alarm (Tahap Peringatan)
2.      State of Resistance (Tahap Pertahanan)
3.      State of Exhaustion (Tahap Kelelahan)
Hans menjelaskan tentang sistem hypothalamic-pituitary-adrenal axis (HPA axis) yang mempersiapkan tubuh dalam menghadapi stress. Ia juga menjelaskan tentang local adaptation syndrome yang mengacu pada respon inflamasi dan proses perbaikan yang terjadi pada daerah tertentu. Tahapan GAS adalah sebagai berikut:


1.      Tahap Peringatan
Ini adalah tahap awal di mana tubuh langsung bereaksi terhadap penyebab stress (stressor). Setelah bertemu stressor, tubuh bereaksi dengan respon "fight-or-flight response" (melawan atau lari) dengan mengaktifkan sistem saraf simpatik. Jika ada ancaman atau bahaya, tubuh akan mengeluarkan hormon seperti hormon kortisol dan adrenalin untuk mengatasi rasa cemas atau takut. Pada tahap ini pertahanan tubuh dikerahkan untuk menghadapi stressor, akibatnya kemampuan imun dapat menurun. Jika stressor hilang, maka tubuh akan kembali normal.
2.      Tahap Pertahanan
Pada tahap ini, sistem saraf parasimpatis kembali ke tingkat normal, sementara tubuh memfokuskan kekuatan menghadapi stressor. Reaksi tubuh naik melebihi batas normal, kadar glukosa darah, kortisol dan adrenalin tetap tinggi, namun penampilan luar organisme tampak normal. Reaksi yang berlebihan ini untuk melawan penyebab ketegangan sehingga diharapkan akan ada penyesuaian. Reaksi seperti ini bila berjalan terus menerus dapat menyebabkan penyakit. Pada tahap ini dapat muncul gejala psikis dan psikosomatis.
3.      Tahap Kelelahan
Pada tahap ini stress berlangsung cukup lama. Tubuh tidak mampu menyingkirkan stressor, akibatnya tubuh terus menerus membuat pertahanan ataupun perlawanan. Perlawanan yang yang dilakukan terus menerus menyebabkan kelelahan pada tubuh. Ketahanan tubuh (imun) berkurang, bahkan dapat hilang sama sekali. Pada tahap ini dapat muncul berbagai macam penyakit, seperti diare, gatal-gatal, mual, tekanan darah tinggi hingga penyakit jantung.
c.       Faktor-faktor Individual dan Sosial Stress
1.      Sumber Stres (Stressor)
Sumber stres adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan menghasilkan reaksi stres, misalnya jumlah semua respons fisiologis nonspesifik yang menyebabkan kerusakan dalam sistem biologis. Stress reaction acute (reaksi stres akut) adalah gangguan sementara yang muncul pada seorang individu tanpa adanya gangguan mental lain yang jelas, terjadi akibat stres fisik dan atau mental yang sangat berat, biasanya mereda dalam beberapa jam atau hari. Kerentanan dan kemampuan koping (coping capacity) seseorang memainkan peranan dalam terjadinya reaksi stres akut dan keparahannya (Sunaryo, 2002). Menurut Selye dalam menggolongkan stres menjadi dua golongan yang didasarkan atas persepsi individu terhadap stres yang dialaminya (Rice, 1992), yaitu :
Distress (stres negatif)
Merupakan stres yang merusak atau bersifat tidak menyenangkan. Stres dirasakan sebagai suatu keadaan dimana individu mengalami rasa cemas, ketakutan, khawatir atau gelisah. Sehingga individu mengalami keadaan psikologis yang negatif, menyakitkan dan timbul keinginan untuk menghindarinya.
Eustress (stres positif)
Eustress bersifat menyenangkan dan merupakan pengalaman yang memuaskan, frase joy of stress untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat positif yang timbul dari adanya stres. Eustress dapat meningkatkan kesiagaan mental, kewaspadaan, kognisi dan performansi kehidupan. Eustress juga dapat meningkatkan motivasi individu untuk menciptakan sesuatu, misalnya menciptakan karya seni.
2.      Faktor individual penyebab stress
Stress muncul dalam diri seseorang melalui penilaian dari kekuatan motivasional yang melawan,bila seseorang mengalami konflik. Konflik inilah yang merupakan sumber stress yang utama.
3.      Faktor sosial penyebab stress
Stress juga dapat bersumber dari interaksi individu dengan lingkungan sosialnya. Perselisihan dalam hubungan seperti masalah keuangan, saling acuh tak acuh dan tujuan yang saling berbeda, dapat menimbulkan tekanan ke dalam diri yang menyebabkan individu mengalami stress. Pengalaman stress yang umum misalnya, bersumber dari pekerjaan.

B.     Tipe-tipe Stress Psikologis
Menurut Maramis (1990) ada empat tipe stress psikologis, yaitu:
a.       Frustasi
Frustasi muncul karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu hal/tujuan. Misalnya seseorang mengalami kegagalan dalam pekerjaan yang mengakibatkan orang tersebut harus turun jabatan. Orang yang memiliki tujuan tersebut mendapat beberapa rintangan/hambatan yang tidak mampu ia lalui sehingga ia mengalami kegagalan atau frustasi. Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, krisis ekonomi, pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain.
b.      Konflik
Konflik ditimbulkan karena ketidakmampuan memilih dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan, aau tujuan. Saat seseorang dihadapkan dalam situasi yang berat untuk dipilih, orang tersebut akan mengalami konflik dalam dirinya. Bentuk konflik digolongkan menjadi tiga bagian, approach-approach conflict, approach-avoidant conflict, avoidant-avoidant conflict.
c.       Tekanan
Tekanan timbul dari tuntutan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu, misalnya cita-cita atau norma yang terlalu tinggi sehingga menimbulkan tekanan dalam diri seseorang. Tekanan juga berasal dari luar diri individu, misalnya orang tua yang menuntut anaknya untuk masuk ke dalam jurusan yang tidak diminati oleh anaknya, anak yang menuntut orang tua untuk dibelikan semua kemauannya, dan lain-lain.
d.      Kecemasan
Kecemasan merupakan suatu kondisi ketika individu merasakan kekhawatiran/kegelisahan, ketegangan, dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang buruk. Misalnya seorang anak yang sering dimarahi ibunya, anak tersebut akan merasakan kecemasan yang cukup tinggi jika ia melakukan hal yang akan membuat ibunya marah padahal ibu si anak tersebut belum tentu marah padanya.

C.    Symptom-Reducing Responses terhadap Stress
Mekanisme Pertahanan Diri ( defense mechanism ) yang biasa digunakan individu untuk di jadikan strategi saat mengurangi stress
a.       Represi
b.      Pengalihan
c.       Sublimasi
d.      Proyeksi
e.       Pembentukan Reaksi
f.       Introyeksi
g.      Regresi
Koping yang digunakan individu secara sadar dan terarah dalam mengatasi sakit atau stressor yang dihadapinya. Metode koping bisa diperoleh dari proses belajar dan beberapa relaksasi. Jika individu menggunaan strategi koping yang efektif dan cocok dengan stressor yang dihadapinya, stressor tersebut tidak akan menimbulkan sakit (disease), tetapi stressor tersebut akan menjadi suatu stimulan yang memberikan wellness dan prestasi. Strategi koping yang berhasil mengatasi stres harus memiliki empat komponen pokok:
1.      Peningkatan kesadaran terhadap masalah untuk mengetahui dan memahami masalah serta teori yang melatarbelakangi situasi yang tengah berlangsung.
2.      Pengolahan informasi, suatu pendekatan dengan cara mengalihkan persepsi sehingga ancaman yang ada akan diredam. komponen ini meliputi pengumulan informasi dan pengkajian sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah.
3.       Pengubahan perilaku, suatu tindakan yang dipilih secara sadar dan bersifat positif, yang dapat meringankan, meminimalkan, atau menghilangkan stressor.
4.       Resolusi damai, suatu perasaan bahwa situasi telah berhasil di atasi.

D.    Pendekatan Problem-Solving terhadap Stress
Dalam Siswanto dijelaskan dalam menangani stres yaitu menggunakan metode biofeedback, tekhniknya adalah mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang sangat rumit sebagai feedback. Tetapi jika teman-teman tahu tentang hipno-self, teman-teman cukup menghipnotis diri sendiri dan melakukan sugesti untuk diri sendiri, cara ini lebih efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri kita sendiri. Dan jika teman-teman ingin melakukan hipno-self, utamanya adalah tempat harus nyama dan tenang, dan teman-teman cukup membangkitkan apa yang menyebabkan teman-teman stres, cari tahu gejalanya hingga akar dari masalah tersebut, kemudian berikan sugesti-sugesti yang positif, Insya Allah cara ini akan berhasil ditambah dengan pendekatan secara spiritual (mengarah kepada Tuhan Semesta Alam).

Daftar Pustaka
1.      Munandar, Ashar Sunyoto. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
2.      Siswanto. 2007. Kesehatan Mental: Konsep, Cangkupan dan Perkembangannya. Ed.,I.  Yogyakarta: ANDI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar