Nama : Diah Kamalia Hanastuti
Kelas : 2PA06
NPM : 12514954
Stress
A. Arti Penting Stress
a.
Pengertian
Stress dan Efeknya
Stress merupakan bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental.
Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress
dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental.
Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun
mental. Sumber stress disebut dengan stressor
dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain. Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai
suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu
kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau
penghalang.
b.
General Adaption Syndrome
GAS atau General
Adaption Syndrome adalah reaksi fisiologis dan psikobiologis yang
ditimbulkan akibat stress. Contohnya hilangnya nafsu makan, melemahnya otot,
menurunnya minat, perasaan cemas, dan sebagainya. GAS diperkenalkan
oleh Hans De Selye pada tahun 1920. Hans De Selye menjelaskan
model GAS dalam 3 (tiga) model tahapan:
1.
State of Alarm (Tahap
Peringatan)
2.
State
of Resistance (Tahap Pertahanan)
3.
State
of Exhaustion (Tahap Kelelahan)
Hans menjelaskan tentang sistem hypothalamic-pituitary-adrenal
axis (HPA axis) yang mempersiapkan tubuh dalam menghadapi
stress. Ia juga menjelaskan tentang local adaptation syndrome yang
mengacu pada respon inflamasi dan proses perbaikan yang terjadi pada
daerah tertentu. Tahapan GAS adalah sebagai berikut:
1. Tahap Peringatan
Ini
adalah tahap awal di mana tubuh langsung bereaksi terhadap penyebab stress
(stressor). Setelah bertemu stressor, tubuh bereaksi dengan respon "fight-or-flight response"
(melawan atau lari) dengan mengaktifkan sistem saraf simpatik. Jika ada ancaman
atau bahaya, tubuh akan mengeluarkan hormon seperti hormon kortisol dan
adrenalin untuk mengatasi rasa cemas atau takut. Pada tahap ini pertahanan
tubuh dikerahkan untuk menghadapi stressor, akibatnya kemampuan imun dapat
menurun. Jika stressor hilang, maka tubuh akan kembali normal.
2. Tahap Pertahanan
Pada
tahap ini, sistem saraf parasimpatis kembali ke tingkat normal, sementara tubuh
memfokuskan kekuatan menghadapi stressor. Reaksi tubuh naik melebihi batas
normal, kadar glukosa darah, kortisol dan adrenalin tetap tinggi, namun
penampilan luar organisme tampak normal. Reaksi yang berlebihan ini untuk
melawan penyebab ketegangan sehingga diharapkan akan ada penyesuaian. Reaksi
seperti ini bila berjalan terus menerus dapat menyebabkan penyakit. Pada tahap
ini dapat muncul gejala psikis dan psikosomatis.
3. Tahap Kelelahan
Pada
tahap ini stress berlangsung cukup lama. Tubuh tidak mampu menyingkirkan
stressor, akibatnya tubuh terus menerus membuat pertahanan ataupun perlawanan.
Perlawanan yang yang dilakukan terus menerus menyebabkan kelelahan pada tubuh.
Ketahanan tubuh (imun) berkurang, bahkan dapat hilang sama sekali. Pada tahap
ini dapat muncul berbagai macam penyakit, seperti diare, gatal-gatal, mual,
tekanan darah tinggi hingga penyakit jantung.
c. Faktor-faktor Individual dan Sosial Stress
1.
Sumber
Stres (Stressor)
Sumber stres adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan
menghasilkan reaksi stres, misalnya jumlah semua respons fisiologis nonspesifik
yang menyebabkan kerusakan dalam sistem biologis. Stress reaction acute (reaksi stres akut) adalah gangguan sementara
yang muncul pada seorang individu tanpa adanya gangguan mental lain yang jelas,
terjadi akibat stres fisik dan atau mental yang sangat berat, biasanya mereda
dalam beberapa jam atau hari. Kerentanan dan kemampuan koping (coping capacity) seseorang memainkan
peranan dalam terjadinya reaksi stres akut dan keparahannya (Sunaryo, 2002). Menurut
Selye dalam menggolongkan stres menjadi dua golongan yang didasarkan atas
persepsi individu terhadap stres yang dialaminya (Rice, 1992), yaitu :
Distress (stres negatif)
Merupakan stres yang merusak atau bersifat tidak menyenangkan. Stres
dirasakan sebagai suatu keadaan dimana individu mengalami rasa cemas,
ketakutan, khawatir atau gelisah. Sehingga individu mengalami keadaan
psikologis yang negatif, menyakitkan dan timbul keinginan untuk menghindarinya.
Eustress (stres positif)
Eustress bersifat menyenangkan dan merupakan pengalaman yang memuaskan,
frase joy of stress untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat positif yang
timbul dari adanya stres. Eustress dapat meningkatkan kesiagaan mental,
kewaspadaan, kognisi dan performansi kehidupan. Eustress juga dapat
meningkatkan motivasi individu untuk menciptakan sesuatu, misalnya menciptakan
karya seni.
2.
Faktor
individual penyebab stress
Stress muncul dalam diri seseorang melalui penilaian dari kekuatan
motivasional yang melawan,bila seseorang mengalami konflik. Konflik inilah yang
merupakan sumber stress yang utama.
3.
Faktor
sosial penyebab stress
Stress
juga dapat bersumber dari interaksi individu dengan lingkungan sosialnya.
Perselisihan dalam hubungan seperti masalah keuangan, saling acuh tak acuh dan
tujuan yang saling berbeda, dapat menimbulkan tekanan ke dalam diri yang
menyebabkan individu mengalami stress. Pengalaman stress yang umum misalnya,
bersumber dari pekerjaan.
B. Tipe-tipe
Stress Psikologis
Menurut Maramis (1990) ada
empat tipe stress psikologis, yaitu:
a. Frustasi
Frustasi muncul karena adanya kegagalan saat ingin
mencapai suatu hal/tujuan. Misalnya seseorang mengalami kegagalan dalam
pekerjaan yang mengakibatkan orang tersebut harus turun jabatan. Orang yang
memiliki tujuan tersebut mendapat beberapa rintangan/hambatan yang tidak mampu
ia lalui sehingga ia mengalami kegagalan atau frustasi. Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat
badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana
alam, kematian orang yang dicintai, krisis ekonomi, pengangguran, perselingkuhan,
dan lain-lain.
b. Konflik
Konflik ditimbulkan karena ketidakmampuan memilih dua
atau lebih macam keinginan, kebutuhan, aau tujuan. Saat seseorang dihadapkan
dalam situasi yang berat untuk dipilih, orang tersebut akan mengalami konflik
dalam dirinya. Bentuk konflik digolongkan menjadi tiga bagian, approach-approach conflict, approach-avoidant
conflict, avoidant-avoidant conflict.
c. Tekanan
Tekanan timbul dari tuntutan hidup sehari-hari.
Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu, misalnya cita-cita atau norma
yang terlalu tinggi sehingga menimbulkan tekanan dalam diri seseorang. Tekanan
juga berasal dari luar diri individu, misalnya orang tua yang menuntut anaknya
untuk masuk ke dalam jurusan yang tidak diminati oleh anaknya, anak yang
menuntut orang tua untuk dibelikan semua kemauannya, dan lain-lain.
d. Kecemasan
Kecemasan merupakan suatu kondisi ketika individu
merasakan kekhawatiran/kegelisahan, ketegangan, dan rasa tidak nyaman yang
tidak terkendali mengenai kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang buruk.
Misalnya seorang anak yang sering dimarahi ibunya, anak tersebut akan merasakan
kecemasan yang cukup tinggi jika ia melakukan hal yang akan membuat ibunya
marah padahal ibu si anak tersebut belum tentu marah padanya.
C.
Symptom-Reducing Responses terhadap Stress
Mekanisme
Pertahanan Diri ( defense mechanism ) yang biasa digunakan individu untuk di
jadikan strategi saat mengurangi stress
a. Represi
b. Pengalihan
c. Sublimasi
d. Proyeksi
e. Pembentukan
Reaksi
f. Introyeksi
g. Regresi
Koping
yang digunakan individu secara sadar dan terarah dalam mengatasi sakit
atau stressor yang dihadapinya. Metode koping bisa diperoleh dari
proses belajar dan beberapa relaksasi. Jika individu menggunaan strategi koping
yang efektif dan cocok dengan stressor yang
dihadapinya, stressor tersebut tidak akan menimbulkan sakit
(disease), tetapi stressor tersebut akan menjadi suatu stimulan yang
memberikan wellness dan
prestasi. Strategi koping yang berhasil mengatasi stres harus memiliki empat
komponen pokok:
1. Peningkatan
kesadaran terhadap masalah untuk mengetahui dan memahami masalah serta teori
yang melatarbelakangi situasi yang tengah berlangsung.
2. Pengolahan
informasi, suatu pendekatan dengan cara mengalihkan persepsi sehingga ancaman
yang ada akan diredam. komponen ini meliputi pengumulan informasi dan
pengkajian sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah.
3. Pengubahan
perilaku, suatu tindakan yang dipilih secara sadar dan bersifat positif, yang
dapat meringankan, meminimalkan, atau menghilangkan stressor.
4. Resolusi
damai, suatu perasaan bahwa situasi telah berhasil di atasi.
D. Pendekatan
Problem-Solving terhadap Stress
Dalam Siswanto dijelaskan dalam menangani stres yaitu
menggunakan metode biofeedback, tekhniknya adalah mengetahui
bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres kemudian belajar untuk
menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang sangat rumit sebagai feedback.
Tetapi jika teman-teman tahu tentang hipno-self, teman-teman cukup
menghipnotis diri sendiri dan melakukan sugesti untuk diri sendiri, cara ini
lebih efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri kita sendiri. Dan jika
teman-teman ingin melakukan hipno-self, utamanya adalah tempat
harus nyama dan tenang, dan teman-teman cukup membangkitkan apa yang
menyebabkan teman-teman stres, cari tahu gejalanya hingga akar dari masalah
tersebut, kemudian berikan sugesti-sugesti yang positif, Insya Allah cara
ini akan berhasil ditambah dengan pendekatan secara spiritual (mengarah kepada
Tuhan Semesta Alam).
Daftar Pustaka
1.
Munandar, Ashar Sunyoto. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi.
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
2.
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental: Konsep, Cangkupan dan
Perkembangannya. Ed.,I. Yogyakarta:
ANDI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar