Nama : Diah Kamalia Hanastuti
Kelas : 2PA06
NPM :
12514954
Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan
Personal
Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri merupakan suatu istilah yang sangat
sulit didefinisikan, karena memiliki banyak arti dan tidak memiliki patokan
jelas untuk menilai nya. Menurut Kartono, penyesuaian diri
merupakan usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada
lingkungannya. Sehingga permusuhan, kemarahan, depresi, dan emosi negatif lain
sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis.
Hariyadi, dkk (2003) menyatakan penyesuaian diri adalah kemampuan mengubah diri
sesuai dengan keadaan lingkungan atau dapat pula mengubah lingkungan sesuai
dengan keadaan atau keinginan diri sendiri.
Penyesuaian diri tidak bisa disebut baik atau buruk,
maka dapat didefinisikan dengan sangat sederhana, yaitu suatu proses yang
melibatkan respon-respon mental dan tingkah laku yang menyebabkan individu
berusaha menanggulangi kebutuhan-kebutuhan, tegangan-tegangan,
frustasi-frustasi, dan konflik batin serta menyelaraskan tuntutan batin dengan
tuntutan dunia.
Hal penting dalam mempelajari konsep penyesuaian diri
bukan dari macamnya tingkah laku yang menentukan apakah orang dapat menangani
proses penyesuaian diri, tetapi cara bagaimana tingkah laku itu digunakan.
Konsep penyesuaian diri dapat digunakan sejauh respon-respon terhadap stress
berfungsi untuk meringankan tuntutan-tuntutan yang ada pada individu. Apabila
respon-respon tersebut tidak efisien, merugikan kesejahteraan pribadi, atau
patologik, maka respon itu disebut sebagai respon yang tidak mampu menyesuaikan
diri.
Ada beberapa ciri penyesuaian diri yang efektif,
seperti:
1. Memiliki persepsi yang akurat terhadap realita
2. Memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan tekanan
atau stress dan kecemasan
3. Mempunyai gambaran diri yang positif tentang dirinya
4. Memiliki kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya
5. Mempunyai kemampuan relasi interpersonal yang baik
Individu yang memiliki, serta memenuhi ciri-ciri
tersebut dapat digolongkan sebagai individu yang memiliki kesehatan mental yang
positif.
Aspek-aspek
Penyesuaian Diri
1.
Penyesuaian Pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk
menerima dirinya
sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis
antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa
dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak
obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Keberhasilan penyesuaian
pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau
tanggungjawab, dongkol. kecewa, atau tidak percaya pada kondisi dirinya.
Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan
yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan
keluhan terhadap nasib yang dialaminya. Sebaliknya kegagalan penyesuaian
pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan
terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya kegagalan antara individu
dengan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Hal inilah yang menjadi sumber
terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan,
sehingga untuk meredakannya individu harus melakukan penyesuaian diri.
2.
Penyesuaian Sosial
Setiap individu hidup di dalam masyarakat. Di dalam
masyarakat tersebut terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain.
Dari proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai
dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi
untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari.
Dalam bidang ilmu psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian
sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan
berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan
dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau
masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya
sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai
informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas
(masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh sang
individu. Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam poroses interaksi
dengan masyarakat masih belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian sosial
yang memungkinkan individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial dengan
cukup baik. Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian
sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial
kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan
sejumlah ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan
individu dengan kelompok. Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai
berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu
mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya
dan menjadi pola tingkah laku kelompok. Kedua hal tersebut merupakan proses
pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka penyesuaian sosial untuk menahan
dan mengendalikan diri. Pertumbuhan kemampuan ketika mengalami proses
penyesuaian sosial, berfungsi seperti pengawas yang mengatur kehidupan sosial
dan kejiwaan. Boleh jadi hal inilah yang dikatakan Freud sebagai hati
nurani (super ego), yang berusaha mengendalikan kehidupan individu
dari segi penerimaan dan kerelaannya terhadap beberapa pola perilaku yang
disukai dan diterima oleh masyarakat, serta menolak dan menjauhi hal-hal yang
tidak diterima oleh masyarakat.
Pembentukan
Penyesuaian Diri
1. Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lahan untuk
mengembangkan berbagai kemampuan, yang dipelajari dalam berbagai hal seperti
melalu bermain, sandiwara, interaksi dengan anggota keluarga, dan
pengalaman-pengalaman didalam keluarga. Oleh sebab itu, orangtua sebaiknya
jangan menghadapkan individu pada hal-hal yang tidak dimengerti. Keluarga juga
merupakan wadah pembentukan karakter individu, penyesuaian diri juga termasuk
di dalamnya.
2. Lingkungan Teman Sebaya
Lingkungan teman sebaya juga merupakan lingkungan yang
sangat menentukan individu dalam melakukan dan mengembangkan penyesuaian diri.
Bila seorang anak dapat dengan mudah menyesuaikan dirinya dengan lingkungan
teman bermainnya, itu merupakan salah satu alasan bahwa sebenarnya
kesehatan mental individu tersebut baik dan sehat.
Pertumbuhan Personal
Manusia
merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila tingkah
lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan bertingkah laku
secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah seorang manusia yang
tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam lingkup sosial tetapi
mempunyai ke khasan tersendiri yang spesifik terhadap dirinya dalam lingkup
sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung
terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui
proses yang panjang.
Penekanan Pertumbuhan
Pertumbuhan
adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan
fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada
waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi
dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmani) yang herediter dalam bentuk proses aktif
secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan
kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
Secara
umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan
berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari keadaan
global dan kurang berdiferensiasi sampai keadaan dimana diferensiasi,
artikulasi dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi
diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas
itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas
dalam kerangka keseluruhan.
Variasi Dalam Pertumbuhan
Tidak
selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena
kadang-kadang ada rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan
penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau
mungkin diluar dirinya.
Kondisi-Kondisi Untuk bertumbuh
Kondisi jasmani
seperti pembawa dan struktur atau konstitusi fisik dan tempramen sebagai
disposisi yang diwariskan, aspek perkembangannya secara intrinsik berkaitan
erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat
korelasi ang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen
(Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstromorf yaitu yang ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai
dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam aktivitas sosial, dan pemilu.
Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat
diperkirakan sistem syaraf, kelenjar, dan otot merupakan faktor yang penting
bagi proses penyesuaian diri.
Beberapa
penelitian menunjukan bahwa gangguan dalam sistem syaraf, kelenjar dan otot
dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah laku dan kepribadian.
Dengan demikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syaraf bagi
tercapainya proses penyesuaian diri yang baik. Disamping itu, kesehatan dan
penyakit jasmani juga berhubungan dengan penyesuaian diri, kualitas penyesuaian
diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan
jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit jasmaniah yang
diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian dirinya.
Fenomenologi Pertumbuhan
Fenomenologi
memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan“ yang di persepsikan dan
diinterpretasi secara subjektif. Setiap, orang mengalami dunia dengan caranya
sendiri. “Alam” pengalaman setia yang berbeda dari alam pengalam orang lain
(Brower. 1983 : 14). Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan-tulisan Carl
Rogers, yang boleh disebut sebagai bapak psikologi Humanistik. Carl Rogers
menggaris besarkan pandangan humanistik sebagai berikut (kita pinjam dengan
sedikit perubahan dari Coleman dan Hammen. 1974 :33).
Daftar Pustaka
2. Semium, Yustinus.(2006). Kesehatan
Mental 1. Yogyakarta: Kanisius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar